Langsung ke konten utama

PSSI Targetkan Perak di SEA Games 2025, Hokky Caraka Heran: “Harusnya Emas!”


 

Kontroversi Target Perak dari PSSI


PSSI kembali menjadi sorotan setelah menetapkan target medali perak untuk cabang olahraga sepak bola putra di SEA Games 2025. Keputusan ini diumumkan sebagai hasil evaluasi internal Kemenpora dan federasi, dengan alasan analisis realistis terhadap kekuatan tim saat ini.

Namun keputusan tersebut memicu perdebatan publik karena Indonesia merupakan juara bertahan pada edisi sebelumnya.

Menurut laporan dari media terpercaya, termasuk Kumparan, Telusur, dan Jawapos, target perak itu memang berasal dari penilaian resmi yang diajukan ke pemerintah. Erick Thohir selaku Menpora mengonfirmasi bahwa target tersebut merupakan acuan resmi yang diajukan oleh PSSI.

https://www.facebook.com/share/r/17UtUuKgW7/


Hokky Caraka: “Gak tau kenapa targetnya perak… harusnya emas.”


Reaksi justru datang dari para pemain muda, salah satunya striker andalan Timnas U-22, Hokky Caraka. Dalam wawancara yang diberitakan oleh Kumparan dan Telusur, Hokky mengaku heran kenapa targetnya hanya perak.

Ia menegaskan bahwa:

Para pemain optimistis

Pelatih dan ofisial juga menginginkan emas

Target perak terasa “pesimis” dan tidak mencerminkan ambisi tim


Hokky berkata dengan jujur bahwa dirinya tidak tahu alasan federasi memasang target yang lebih rendah, sementara atmosfer di dalam tim justru sangat positif.


Perbedaan Ambisi: Pemain Optimis, Federasi Realistis


Perbedaan pandangan ini menarik perhatian publik.

Di satu sisi, PSSI menilai target perak adalah keputusan realistis.

Namun di sisi lain, para pemain yang setiap hari berlatih justru memiliki rasa percaya diri tinggi untuk mempertahankan gelar juara.

Menurut laporan Telusur dan IDN Times, persiapan Timnas U-22 berjalan cukup baik, termasuk fitur uji coba melawan tim kuat seperti Mali. Hal ini semakin menguatkan keyakinan bahwa target emas sebenarnya bukan hal yang mustahil.


Respons Publik dan Sorotan Pengamat


Keputusan PSSI menargetkan perak menuai kritik. Banyak pengamat menilai:

Target terlalu rendah untuk tim juara bertahan

Federasi terlihat kurang percaya diri


Mental juara justru datang dari pemain, bukan manajemen

Survei opini publik yang dirilis sejumlah lembaga juga menunjukkan kecenderungan masyarakat ingin melihat PSSI lebih berani menetapkan target maksimal.


Kesimpulan: Ambisi Indonesia Harus Dibangun dari Atas dan Bawah


Kontroversi ini memperlihatkan adanya jarak antara ambisi pemain dan kebijakan federasi.

Hokky Caraka sudah menegaskan bahwa dirinya dan rekan-rekan tidak turun untuk menjadi nomor dua.

Terlepas dari target resmi, mental juara tetap menjadi modal terpenting bagi Timnas Indonesia U-22 dalam menghadapi SEA Games 2025.


Kini publik menunggu:

apakah Timnas Indonesia akan mengikuti target federasi, atau membuktikan mental juara sesuai kata Hokky mengejar emas?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Revolusi Total PSSI, 200 Ultras Garuda Indonesia Siap Gelar Aksi di GBK Arena

  Kelompok suporter Timnas Indonesia, Ultras Garuda, dikabarkan akan menggelar aksi damai di Kantor PSSI, yang berlokasi di GBK Arena, Senayan, Jakarta Pusat, pada Kamis (13/11/2025). Aksi ini digelar sebagai bentuk kekecewaan dan desakan terhadap revolusi total dalam tubuh PSSI, usai gagalnya Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026. Sebelumnya, perwakilan Ultras Garuda telah bertemu langsung dengan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir. Dalam pertemuan itu, mereka menyampaikan lima tuntutan penting kepada federasi sepak bola nasional tersebut. Kelima tuntutan tersebut meliputi: 1. Manajemen timnas yang profesional. 2. Road map PSSI yang jelas. 3. Proses rekrutmen pelatih yang transparan dan profesional. 4. Pembinaan usia dini yang konsisten dan terintegrasi. 5. Keterlibatan serta peran aktif suporter. Namun, selama lima hari pasca pertemuan tersebut, tidak ada respons konkret dari PSSI. Karena itu, Ultras Garuda mengambil inisiatif untuk turun langsung ke lapangan dan menyuarakan aspir...

Bisakah Sepakbola Jadi Jalan Menuju Panggung Politik?

Opini Admin One News Di Indonesia, sepakbola bukan hanya olahraga  tapi juga alat sosial dan politik yang sering dimanfaatkan untuk menarik simpati publik. Namun, apakah popularitas di dunia sepakbola benar-benar bisa memenangkan pertarungan politik? Kekalahan timnas Indonesia dari Irak dan Arab Saudi pada Oktober lalu menjadi salah satu kekecewaan terbesar dalam sejarah sepakbola nasional. Publik yang sempat menaruh harapan besar terhadap peluang Garuda menuju Piala Dunia 2026 kini harus menelan kenyataan pahit. Imbasnya, nama Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, ikut terseret. Ia dinilai gagal menjaga stabilitas timnas usai memecat pelatih yang sangat dicintai publik, Shin Tae-yong, dan menggantikannya dengan legenda Belanda, Patrick Kluivert, yang masih diragukan kemampuannya. Padahal sebelum kekalahan tersebut, pamor Erick Thohir diprediksi bisa melonjak pesat bila timnas Indonesia mampu tampil gemilang. Banyak pengamat menilai, langkah mengganti...

Banjir Berulang di Kampung Babakan, Warga Kembali Jadi Korban Luapan Sungai Cidurian

OneNews-id – Banjir kembali merendam Kampung Babakan, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, Banten. Ironisnya, bencana ini terjadi hanya tiga hari setelah air sempat surut, namun kini datang dengan kondisi yang lebih parah hingga masuk ke rumah-rumah warga. Luapan Sungai Cidurian yang kembali terjadi menunjukkan belum adanya solusi nyata terhadap persoalan banjir yang terus berulang. Hujan deras yang mengguyur selama beberapa hari memang menjadi pemicu, namun ketidakmampuan sungai menampung debit air seolah menjadi masalah lama yang dibiarkan. Warga kembali menanggung dampak terparah. Aktivitas lumpuh, rumah terendam, dan kekhawatiran terus menghantui setiap kali hujan turun. Situasi ini memunculkan pertanyaan serius soal upaya pencegahan dan penanganan banjir di wilayah tersebut. Hingga kini, banjir di Kampung Babakan masih menjadi siklus tahunan tanpa kepastian solusi jangka panjang, sementara warga hanya bisa berharap air segera surut dan perhatian nyata dari p...